Pertanyaan

Hal yang sering ditanyakan

Klik pada pertanyaan untuk memunculkan jawaban, klik sekali lagi untuk menyembunyikan jawaban.

  1. Setiap tanggal 10,15,20,25 setiap bulan, BPS RI mengirimkan raw data ke Pusdatin Kementerian Pertanian.
    Data tersebut dilakukan backup oleh Ditjen Hortikultura agar aman tersimpan pada database server backup dan tidak terpengaruh aktivitas pengiriman.
    Ditjen Hortikultura melakukan proses rekapitulasi dan transpose data sesuai kebutuhan.
    Hasil rekapitulasi ditampilkan dalam aplikasi ini.
  2. Data tidak seketika sinkron setiap saat.
    Data yang ada pada sipedas merupakan hasil pengiriman terakhir dari tanggal yang disepakati pada nomor 1.
  3. Data yang dikirim ke BPS-RI akan melalui proses entri ke dalam aplikasi SIMSPH Online.
    Data akan muncul di sipedas jika data hasil entrian sudah terkirim ke Kementerian Pertanian.
    Harap bersabar menunggu proses.
  4. Data yang dientri di SIMSPH Online tidak langsung seketika muncul di Sipedas karena belum terkirim ke Kementerian Pertanian.
    Harap bersabar menunggu tanggal perngiriman data ke Kementerian Pertanian.
  5. Sesuai kewenangan merilis data adalah BPS, maka jika rapat melibatkan BPS maka sebaiknya menggunakan data yang bersumber dari aplikasi berjalan SPH Oonline.
    Karena ada perbedaan waktu pada saat data diakses.
  6. Data dapat digunakan untuk keperluan pimpinan dan monitoring di daerah dengan menyebutkan tanggal tersebut.
    Sumber: https://sipedas.pertanian.go.id, tanggal 17 Agustus 2021
  7. Data non rekap adalah data terlapor yang tidak dapat masuk ke dalam rekapitulasi karena terjadi kesalahan dalam isian.
    Data error adalah ketika isian data tidak lengkap sesuai dengan aturan validasi contoh jika ada panen maka harus ada produksi, dan harga. Dan data produksi yang diluar range.
  8. Data error diperbaiki dengan melampirkan formulir sph kecamatan sebelum dan angka perbaikan dan mengirimkan ke BPS kabupaten.
  9. Data dilaporkan dengan merevisi data tanam pada laporan sebelumnya karena urutannya: tanam -> panen -> produksi.
    Karena ada konsep luas tanaman lalu dan luas tanaman akhir antara laporan harus sama maka dapat direvisi mundur hingga bulan tanam.
    Jika yang direvisi tanaman tahunan maka dapat dimulai dari triwulan1.
  10. Data bulan Januari tidak ada validasi terkait dengan tahun sebelumnya, jika ada revisi angka dan kolom "luas tanaman akhir bulan lalu" tidak sama dengan "Luas tanaman akhir" bulan Desember maka tidak akan menjadi error. Begitu juga untuk triwulanan. Hal ini untuk mengakomodasi revisi data mulai Januari atau Triwulan 1.
    Validasi antar bulan dan triwulan tidak berlaku pada Januari dengan sebelumnya maupun Triwulan 1 dengan sebelumnya.
  11. Metodologi pengisian formulir SPH adalah pendataan lengkap tanam - panen - produksi - harga.
    Belum ada kesepakatan bahwa produksi merupakan luas panen x produktivitas seperti pada KSA.
    Sehingga kolom produksi harus diisi sesuai dengan kondisi di lapangan.
    Range produktivitas digunakan sebagai validasi terhadap data yang dientri. Jika ada entrian yang diluar range maka akan menjadi data pencilan / outlayer yang harus ditandai sebagai error, dan datanya tidak direkap.
  12. Jika terjadi demikian, daerah dapat mengusulkan membuka range produktivitas ke Direktorat Jenderal Hortikultura, usulan akan dievaluasi dan diteruskan ke BPS-RI untuk membuka Range.
    Biasanya berawal dari berita acara uji petik produksi di suatu daerah sebagai dasar mengajukan usulan.